Leadership, ORGANISASI

7 Domain Kepemimpinan

Berikut ini hasil kajian kepemimpinan dari berbagai literatur oleh Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. d tersebut menyimpulkan alat ukur kepemimpinan yang terdiri dari 7 domain.

Kepemimpinan yang efektif

Dari hasil studi Bennis dan Nanus (1985) mengidentifikasi empat strategi kepemimpinan yang efektif:

1). Adanya artikulasi visi yang kuat. Pemimpin yang efektif harus memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang ingin mereka raih.

2). Kemampuan mengkomunikasikan visi tersebut kepada orang lain, terutama pengikut, dengan kejelasan dan intensitas yang menciptakan suatu ”pembagian makna”.

3). Pemimpin harus terlihat bisa dipercaya dengan memegang teguh komitmennya pada visi, yang memungkinkan pengikut untuk melihat pemimpinya terus memacu ke arah pencapaian visi.

4). Yang paling penting, pemimpin yang efektif harus mampu menggunakan sepenuhnya kapasitas pribadi yang meliputi: intelegensi, energi dan komitmen, karena merasa yakin akan kemampuan mereka sendiri serta optimis tentang kesuksesan usahanya di masa mendatang.

Menurut Westburg (dalam Bass, 1981), menyatakan bahwa setiap studi mengenai kepemimpinan harus memasukkan beberapa hal yang dimiliki oleh individu seperti, perasaan, kecerdasan, dan action traits dan juga memperhatikan kondisi-kondisi spesifik di mana individu berada.

Menurut Case (dalam Bass, 1981) juga mengemukakan bahwa kepemimpinan dihasilkan dari perpaduan antara tiga faktor, yaitu faktor kepribadian dari pemimpin, karakteristik dari kelompok yang dipimpin, dan situasi dalam kelompok (perubahan atau masalah yang terjadi dalam kelompok).

Menurut Brown (dalam Bass, 1981) mengusulkan 5 hukum dinamis dari kepemimpinan. Menurutnya seorang pemimpin harus memiliki (1) karakteristik yang sama dengan kelompok yang ia pimpin, (2) potensi yang besar dalam area sosial, (3) mampu beradaptasi dalam lingkungan yang sudah terbentuk, (4) memahami tren jangka panjang yang berlangsung dalam lingkungan tersebut, (5) memahami bahwa kepemimpinan berpotensi mengurangi kebebasan dari pemimpin.

Menurut Gerth dan Mills (dalam Bass, 1981), untuk memahami kepemimpinan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: (1) Traits dan motivasi dari si pemimpin, (2) Pandangan yang dimiliki oleh publik mengenai pemimpin mereka, dan motivasi yang dimiliki oleh pengikutnya untuk mengikuti pemimpin tersebut, (3) Peran yang dimiliki oleh pemimpin, dan (4) Situasi institusi di mana pemimpin dan bawahannya berada.

Peran kegiatan organisasi dalam pembentukan kepemimpinan

Dalam bukunya yang berjudul Youth Leadership, Josephine van Linden and Carl Fertman (1998) menggambarkan pemimpin sebagai seorang individu yang berpikir untuk dirinya sendiri, mengkomunikasikan pemikiran dan perasaannya pada orang lain, dan membantu orang lain untuk memahami dan melakukan apa yang diinginkannya.

Sementara itu, Social Policy Research Associates (2003) melihat bahwa kepemimpinan dalam konteks sebuah komunitas bukanlah melulu tentang prestasi individu, akan tetapi mengenai proses belajar untuk berpartisipasi dalam sebuah proses kelompok, membangun konsensus, dan melibatkan minat personal serta ide-ide untuk komunitas tersebut.

Menurut Karnes & Bean (1990). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membentuk kepemimpinan, terutama pada pemuda dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler

Menurut hasil penelitian yang dilakukan Sarwono (1978) yang menyatakan bahwa badan-badan kemahasiswaan intra universitas seperti Dewan Mahasiswa, Senat Mahasiswa, Majelis Permusyawaratan Mahasiwa dan Pers Kampus serta organisasi ekstern melahirkan para pemimpin dan aktivis. Organisasi tersebut jelas merupakan kegiatan ekstrakurikuler. Melalui organisasi tersebut, mahasiswa memperoleh banyak pelajaran bagaimana untuk mempersuasi orang lain, membangun semangat kelompok, serta memecahkan masalah, dan kegiatan tersebut juga dapat membuat mereka memahami berbagai perbedaan kemampuan, skill, serta bakat-bakat yang dengan demikian mereka menjadi lebih memahami bagaimana berinteraksi secara efektif dengan orang yang berbeda-beda untuk mencapai satu tujuan bersama (Karnes &Bean, 1990).

Menurut Karnes & Bean (1990) juga melihat bahwa kepemimpinan dalam kegiatan organisasi tersebut memiliki korelasi yang tinggi dengan kepemimpinan mereka di masa depan daripada prestasi akademik. Di Indonesia, sudah jamak diketahui bahwa banyak diantara para aktivis organisasi yang kemudian memilih jalur karir dalam bidang politik maupun pemerintahan. Sebut saja Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), selain sebagai tempat berhimpun, ia juga menjadi semacam laboratorium kaderisasi kepemimpinan. KNPI banyak pernah melahirkan pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh nasional yang berperan dalam proses pembangunan (Noeh, 2006). Bahkan saat ini kementerian pemuda dan olahraga dipimpin oleh seorang mantan ketua umum KNPI. Dari organisasi kampus juga tidak kalah banyaknya, saat ini banyak mantan aktivis gerakan mahasiswa yang sedang duduk sebagai wakil rakyat.

Menurut Schneider et al (2002) juga menguatkan kondisi ini, dimana ia menyatakan bahwa kepemimpinan seseorang pada masa remajanya, bisa menjadi prediksi pilihan pekerjaan yang dilakukan mereka di kemudian hari. Pendekatan ini melibatkan identifikasi trait attributes pemuda/remaja/mahasiswa yang memperlihatkan perilaku kepemimpinan, untuk selanjutnya identifikasi tersebut akan mengarahkan mereka untuk menjadi pemimpin nantinya.

Pendekatan dalam penelitian kepemimpinan

Mangunsong (2004) menyatakan bahwa kepemimpinan telah dipelajari dengan berbagai cara, tergantung preferens metodologi dan konsep kepemimpinan yang digunakan oleh peneliti. Penelitian mengenai kepemimpinan dapat dikalsifikasikan ke dalam salah satu dari empat pendekatan (1) sifat (trait) (2) perilaku (3) pengaruh kekuasaan, dan (4) situasional.

Pendekatan sifat (trait) menggunakan asumsi bahwa sejumlah orang merupakan pemimpin alamiah yang dianugerahi dengan beberapa sifat yang tidak dipunyai orang lain. Namun pendekatan ini banyak menuai kritik. Stoggdil (dalam Mangunsong, 2004) menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan proses aktif dan bukan semata-mata pemilikan sifat-sifat tertentu, ada keterkaitan kerja antara anggota kelompok dengan pimpinannya. Kritik lain datang dari Robbins (dalam Mangunsong, 2004)  yang mengemukakan empat alasan : mengabaikan kebutuhan dari pengikut, gagal memperjelas pentingnya beberapa sifat, tidak memisahkan sebab dari akibat, dan mengabaikan faktor-faktor situasional lainnya.

Pendekatan kedua yakni pendekatan perilaku memberikan perhatian lebih teliti terhadap apa yang sebenarnya yang dilakukan oleh pemimpin dalam organisasinya. Pendekatan perilaku dibagi dalam dua kategori umum. Pertama, mengenai sifat dari pekerjaan manajerial, bagaimana seorang pemimpin membagi waktu, menjelaskan isi kegiatan berdasarkan kategori peran, fungsi, serta tanggung jawab. Kedua, penelitian yang membandingkan perilaku para pemimpin yang efektif dan tidak efektif.

Perbedaan kedua pendekatan ini (sifat dan perilaku) terletak pada pengandaiannya yaitu perilaku kepemimpinan itu secara dasar adalah bawaan lahir atau kepemimpinan itu sebenarnya bisa dipelajari. Dengan perspektif yang kedua, dapat dirancang program-program kepemimpinan untuk membentuk perilaku individu yang efektif dalam memimpin.

Pendekatan ketiga adalah pendekatan pengaruh kekuasaan dimana aspek yang disorot adalah proses pemimpin mempengaruhi pengikutnya. Seperti kedua pendekatan sebelumnya, pendekatan pengaruh juga memusatkan perhatiannya pada pemimpin dengan asumsi adanya hubungan sebab-akibat dengan arah tunggal (pemimpin bertindak dan para pengikut beraksi). Efektifitas kepemimpinan ini dilihat dari jumlah dan jenis kekuasaan seorang pemimpin dan cara kekuasaan itu digunakan (Mangunsong, 2004). Efektifitas juga teretak pada pemahaman tentang bagaimana pemimpin dan pengikut lama-kelamaan saling mempengaruhi (Yulk, dalam Mangunsong 2004).

Pendekatan ke empat adalah pendekatan situasional, dimana kemampuan memimpin dalam situasi-situasi spesifik. Dalam pendekatan situasional, faktor-faktor kontekstual seperti sifat pekerjaan yang dilaksanakan oleh pemimpin, sifat lingkungan eksternal dan karakteristik pengikut perlu diperhatikan (Mangunsong, 2004). Beberapa model dari teori situasional ini adalah model Fiedler, Hersey dan Blanchard, teori pertukaran pemimpin-anggota (leader-member exchange=LMX), teori jalur tujuan (path-goal theory), serta model partisipasi-pemimpin (leader participation model) (Robbins, dalam Mangunsong, 2004).

Pengukuran Kepemimpinan

            Ada beberapa cara dalam mengukur kepemimpinan, salah satu alat ukur yang sudah dikembangkan dan diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia adalah Leadership Intelegence Quotient (LIQ). Alat ukur ini diadaptasi oleh Mangunsong (2004) yang digunakan untuk menyusun disertasinya di Universitas Indonesia. Kecerdasan kepemimpinan mencerminkan suatu kemampuan dan cara berfikir (kognitif) dalam perilaku kepemimpinan (Mangunsong, 2004). Alat ukur yang peneliti gunakan untuk mengukur kecerdasan kepemimpinan adalah Leadership Intelegence Quotient (LIQ) yang diadaptasi dari LIQ Murphy dan sudah diadaptasi dalam bahasa Indonesia oleh Mangunsong (2004).  LIQ mencakup delapan aspek yang harus dipenuhi seorang pemimpin: 1) Memilih orang yang tepat, 2) Menghubungkan mereka dengan alasan yang benar, 3) Mengatasi masalah-masalah yang muncul, 4) Mengevaluasi kemajuan untuk mencapai tujuan, 5) Melakukan negosiasi resolusi terhadap konflik, 6) Menyembuhkan luka yang ditimbulkan oleh perubahan, 7) Melindungi kultur mereka dari bahaya krisis, dan 8) Mensinergikan semua pihak terkait sedemikian rupa sehingga memungkinkan mereka mencapai kemajuan bersama (Murphy, dalam Mangunsong 2004).

Kesimpulan hasil kajian dirumuskan 7 item domain kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:

  1. 1.    Komunikasi
  2. 2.    Bagaimana membina hubungan dengan orang lain  
  3. 3.    Memahami diri sendiri
  4. 4.    Bekerja dalam kelompok
  5. 5.    Kemampuan manajemen
  6. 6.    Learning skills
  7. 7.    Kemampuan membuat keputusan

About Febriansyah

FEBRIANSYAH, CH, CHt, CNLP, NNLP Pract. adalah seorang Master, Profesional Trainer, Motivator, Provocator, Inspirator, Fasilitator, Creator, Instructor, Coach yang sangat berpengalaman dalam dunia Human Resources Development

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

KALENDER

Oktober 2011
S S R K J S M
« Mei   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

MY TWITTER

Masukkan alamat email Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui email. Syukron

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: